Teknologi IoT Hadir untuk Amankan Mutu Benih Jagung Nasional
Kementerian Pertanian terus mendorong pengembangan jagung pangan guna memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung target swasembada jagung tahun 2026 dengan proyeksi produksi mencapai 18 juta ton pipilan kering. Selain untuk pakan ternak, jagung diarahkan menjadi bahan baku industri pangan, seperti pati dan produk turunannya. Upaya peningkatan produksi tersebut perlu didukung oleh penanganan pascapanen yang baik, terutama pada tahap penyimpanan, guna mencegah serangan serangga dan pertumbuhan jamur penghasil aflatoksin yang dapat menurunkan mutu serta membahayakan keamanan pangan.
Penyediaan benih jagung bermutu merupakan faktor penting dalam mendukung peningkatan produksi jagung nasional. Pada tahun 2026, dilakukan perakitan dan pengujian prototipe gudang benih jagung berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengotomatisasi pemantauan kondisi penyimpanan, seperti suhu dan kelembapan. Teknologi ini diharapkan dapat mempermudah pengendalian serta penjaminan mutu benih jagung selama proses penyimpanan.
Perakitan penyimpanan jagung berbasis IoT difokuskan pada upaya menjaga stabilitas kondisi dalam gudang penyimpanan benih jagung dalam mempertahankan mutu benih jagung, mendeteksi dini pembusukan (jamur penghasil aflatoksin), serta mengotomatisasi kontrol lingkungan melalui sensor-sensor yang dipasang pada gudang.
Kepala BRMP Pascapanen mengatakan menjaga mutu jagung selama penyimpanan menjadi tantangan penting dalam rantai pascapanen. Selama ini pengawasan kondisi gudang masih banyak dilakukan secara manual, sehingga kurang efisien dan berisiko terlambat mendeteksi perubahan kondisi selama penyimpanan benih jagung.
"Pemanfaatan teknologi IoT menjadi langkah inovatif untuk memastikan mutu jagung tetap terjaga selama penyimpanan. Dengan pemantauan yang lebih cepat, akurat, dan berkelanjutan, risiko penurunan mutu benih jagung dapat ditekan sehingga benih jagung yang dihasilkan tetap terjaga kualitasnya," ujar Suharyanto. Penanggung jawab kegiatan, Miskiyah mengatakan Keluaran kegiatan tahun 2026 adalah Prototipe Penggudanga Jagung Berbasis IoT untuk Mengurangi Cemaran Jamur, sedangkan target jangka panjangnya adalah terwujudnya Teknologi Penggudangan Jagung Berbasis IoT untuk Mempertahankan Mutu Jagung Sesuai SNI.
Prototipe ini ditujukan bagi berbagai pengguna, mulai dari penangkar benih, petani, kelompok tani, gapoktan, dinas terkait, Bulog, hingga pelaku usaha. Sistem yang dikembangkan juga diupayakan mudah dioperasikan sehingga dapat diterapkan secara luas di lapangan. “Melalui penerapan teknologi ini, penanganan pascapanen benih jagung diharapkan menjadi lebih baik, risiko kontaminasi aflatoksin dapat ditekan, dan mutu benih jagung yang dihasilkan dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan sesuai standar yang dipersyaratkan,” pungkas Miskiyah.
#KitaMulaiCaraBaru #swasembadapangan #pascapanenjagung